Halaman

Webmatic

Tampilkan postingan dengan label http://3dmasa.blogspot.com/p/artikel-motivasi.html. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label http://3dmasa.blogspot.com/p/artikel-motivasi.html. Tampilkan semua postingan

Senin, 22 Agustus 2011

Lailatul Qodar dan Nuzulul Qur'an

Sebagian berpendapat ailatul Qodar tidak dapat dipisahkan dengan Nuzulul Qur'an (turunnya Al-Qur'an), karena pada malam itu pula Kitab Mulia ini Allah turunkan sebagai petunjuk bagi manusia. "Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al-Qur'an) pada malam kemulian (Lailatul Qadr)". (QS. Al-Qodar: 1) Pada ayat lain, Allah berfirman: "Bulan Ramadhan adalah bulan dimana di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan batil)..." (QS. Al-Baqarah: 185) 
Lailatul QodarPara ulama berbeda pendapat tentang kapan persis terjadinya Lailatul Qodar karena beragamnya informasi hadis Rasulullah serta pemahaman para sahabat. Ada yang berpendapat Lailatul Qodar terjadi pada malam ke-27 Ramadhan (HR. Iman Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi), ada yang menyebutkan malam 17 Ramadhan, malam Nuzulul Quran. Ada pula yang menyatakan, Lailatul Qodar terjadi pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, sebagaimana sabda Rasulullah SAW, "Carilah Lailatul Qodr pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan" (HR. Bukhari, Muslim, dan Baihaqi).           
Hadis lain menyebutkan malam penuh keberkahan itu terjadi pada malam tanggal 21 atau tanggal 23 Ramadhan. Ada juga hadis yang menyebutkan Lailatul Qodar bisa dicari pada tujuh malam terakhir (HR Bukhari dan Muslim).            
Begitu beragamnya pendapat tentang terjadinya lailatul qadar. Tapi yang utama bagaimana kita mempersiapkan diri untuk mengapai kebaikan-kebaikan yang terdapat pada malam tersebut. Meriwayatkan Ali radliallahu anhu, Rasulullah bersabda, "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, seandainya kalian kehilangan hari-hari sebelumnya maka jangan sampai kalian melewatkan malam-malam terakhir bulan tersebut".            
Adapun tentang keutamaan Lailatul Qodar, Allah Subhanahu wa Ta'ala menjelaskan, malam itu lebih utama dari seribu bulan (83 tahun). Pada malam itu, para malaikat turun ke bumi dengan izin-Nya, sehingga sepanjang malam itu tersebar keselamatan bagi penduduk bumi hingga terbit fajar.            
"Sesungguhnya Kami telah menurunkan (Al Qur'an) pada malam kemulian (Lailatul Qodar)." "Dan tahukah kamu apa malam kemuliaan". "Malam kemulian itu lebih baik dari seribu bulan". "Pada malam itu turun para malaikat dan ruh dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan". "Malam itu penuh kesejahtraan sampai terbit fajar". (QS. Al-Qodar: 1-5).
Pada malam itu para malaikat termasuk Jibril turun ke bumi. Sebagaimana sabda Rasul yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas, “Pada malam itu para malaikat turun ke bumi untuk menghampiri dan mengucapkan salam kepada hamba-hamba Allah yang sedang beribadah. Pada malam itu, pintu-pintu langit dibuka dan Allah menerima taubat hamba-Nya”.            
Keutamaan Lailatul Qodar tersebut sungguh menggiurkan. Wajar bila kedatangannya begitu didambakan setiap Muslim. Menariknya, Allah dan Rasul-Nya tidak menentukan kapan malam itu tiba, sehingga upaya 'perburuan' Lailatul Qodar —dengan cara I'tikaf— di akhir bulan Ramadhan menjadi fenomena tersendiri di kalangan umat Islam.
Ini pun menjadi pelajaran tersendiri bagi para shoimin (orang yang shaum), untuk senantiasa mengisi hari-hari Ramadhan dengan ibadah dan amalan-amalan soleh lainnya. Ibnu Umar ra. ia berkata, Rasulullah bersabda: "Dapatkanlah Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan, apabila kalian merasa lemah atau tidak mampu melaluinya maka jangan sampai kalian kehilangan tujuh malam berikutnya".
Nuzulul Qur'an
  
Banyak perbedaan pendapat tentang waktu turunnya Al-Qur'an/Nuzulul Qur'an (Bulan Rabiul Awwal, Rajab dan Ramadhan), Tetapi mayoritas ulama mengatakan Ramadhan adalah bulan terjadinya Nuzulul Qur'an. Namun demikian, bukan peristiwa turunnya Al-Qur'an pertama kali yang kita peringatkan, melainkan keutamaan kandungan Al-Qur'an itu sendiri yang patut kita perhatikan.Pertama kali tidaklah penting, sebab di samping hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabatnya dan para tabi'in, Al-Qur'an diturunkan tidaklah untuk diperingati/dirayakan tetapi untuk memperingatkan kita.
Allah Subhanahu wa Ta'ala menegaskan, "Alif Lam Mim Shaad. Ini adalah sebuah kitab yang diturunkan kepadamu, maka janganlah ada kesempitan di dalam dadamu karenanya, supaya kamu memberi peringatan dengan kitab itu (kepada orang kafir) dan menjadi pelajaran bagi orang-orang yang beriman" (Al-A'raaf:1-2).Al-Qur'an adalah kitab yang berisi petunjuk dan penjelasan bagi manusia, tidak ada kebatilan di dalamnya, berisi aturan dan undang-undang langit untuk mengatur dan menentramkan dunia. Al-Qur'an berbicara tentang masa lalu, hari ini, juga masa yang akan datang. Berpahala bagi yang membaca dan mempelajarinya serta kitab yang dapat mengantarkan kepada keselamatan di dunia dan di akhirat. Mendapat keutamaan bagi yang mengimani dan mengamalkannya. Itulah kitab suci umat Islam, Kitab Al-Qur'an yang mulia dan terjaga, yang tidak ada keraguan di dalamnya.
"Alif laam miim, Kitab (Al-Qur'an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa" (QS. Al-Baqarah:1-2) Walau dalam perjalanannya, kitab suci Al-Qur'an ataupun Sunnah Muthahharah (Sunah yang suci--hadits nabawi) mendapatkan hujatan dari orang-orang yang mempropagandakan keilmiahan, pembaruan, dan kemerdekaan berpikir. Meragukan keotentikan Al-Qur’an, serta melontarkan dakwaan-dakwaan palsu yang terkadang berhasil memperdaya kaum muslimin. Tetapi upaya mereka hanya sia-sia.
Al-Qur'an dan Sunnah Nabi akan tetap pada kondisi baik, Pikiran dan goresan pena-pena jahil itu tidak mungkin dapat merusak dan mengaburkan kesucian wahyu Allah tersebut, ibarat angin yang menerpa gunung yang menancap kokoh di bumi. Bagaimanapun gencarnya kebatilan menyerangnya, dalam waktu dekat ia akan reda dan tidak akan bertahan lama, kecuali yang tinggal hanya suara kebenaran. Maha Benar Allah yang berfirman:"Sebenarnya Kami melontarkan yang haq kepada yang batil lalu yang hak itu menghancurkannya, maka dengan serta merta yang batil itu lenyap..." (QS. Al-Anbiya: 18)

Itulah di antara keistimewaan Al-Qur'anul Karim, akan tetap terjaga karena Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menjamin pemeliharaannya. Allah sendirilah yang akan menjaga dan memeliharanya, karena Al-Qur'an ia adalah kitab suci terakhir yang Dia turunkan kepada Nabi dan umat terakhir. "Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur'an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya." (QS. Al-hijr: 9)   
Ahlul Qur'anKarena begitu memahami arti dari Ramadhan, bulan Al-Qur'an yang terdapat Lailatul Qodar di dalamnya, dan begitu kuatnya dalam mencintai Al-Qur'an, maka bila Ramadhan tiba Rasulullah, para sahabat, tabi'in dan tabi'ittabi'in mengkhususkan diri untuk membaca Al-Qur'an.
Betapa besar pahala yang dijanjikan Allah bagi Ahlul Qur’an atau orang-orang yang selalu membaca, memahami dan mengamalkan Al-Qur'an. Allah Ta'ala berfirman: "Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah...mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi" (QS. Al-faathir: 29)Aisyah ra. mengatakan bahwa Rasulullah saw bersabda: "Orang-orang yang membaca Al-Qur'an dan pandai dalam membacanya, ia bersama para malaikat yang mulia. Dan yang membaca Al-Qur'an dengan mengeja--dan ia membacanya dengan sulit--ia mendapatkan dua pahala." (Hadits Muttafaq'alaih dan lafal ini dari Muslim).
Jika pada hari-hari biasa Ahlul Qur’an dipuji dan diberi pahala istimewa, tentu akan lebih besar lagi pahalanya saat dibaca pada bulan Ramadhan, dimana Allah akan melipatgandakan setiap amalan anak adam tujuhpuluh, tujuhratus kali bahkan tak terhitung, karena Allah sendiri lah yang akan membalasnya. Sebab itu, Momen Ramadhan hendaknya menjadikan kita semakin cintai terhadap Al-Qur'an, lebih sering membaca dan belajar memahaminya. Sehingga Ramadhan pada tahun ini bernilai lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
TakhtimKemuliaan Lailatul Qodar akan merubah kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Para malaikat yang menemui jiwanya malam itu, akan tetap hadir memberikan bimbingan dalam mengarungi samudera kehidupan hingga akhir hayatnya. Dengan hadirnya "semangat kebaikan" Lailatul Qodar, bisikan nafsu dan syetan yang hadir dalam jiwa setiap manusia akan terpinggirkan. Ia takkan mampu menembus dinding tebal bisikan kebaikan itu. Singkatnya, orang yang jiwanya dikendalikan bisikan kebaikan yang fondasinya tertanam pada malam Lailatul Qodar, jiwanya selalu terdorong untuk melakukan kebaikan. Mari siasati malam-malam Ramadhan ini dengan banyak beribadah, membaca al-Qur'an dan beramal shalih, sehingga Lailatul Qodar menghampiri kita.

Rabu, 17 Agustus 2011

Keutamaan Berpuasa

“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi…”
Menghapuskan Dosa-Dosa
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang puasa Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala, akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari [38, 1901, 2014] dan Muslim [760] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Yang dimaksud dengan iman di sini adalah meyakini wajibnya puasa yang dia lakukan. Sedangkan yang dimaksud dengan mengharapkan pahala/ihtisab adalah keinginan mendapatkan balasan pahala dari Allah ta’ala (Fath Al-Bari, 4/136)
An-Nawawi mengatakan bahwa pendapat yang populer di kalangan para ulama ahli fikih menyatakan bahwa dosa-dosa yang terampuni dengan melakukan puasa Ramadhan itu adalah dosa-dosa kecil bukan dosa-dosa besar (lihat Al-Minhaj, 4/76). Hal itu sebagaimana tercantum dalam hadits Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمْعَةُ إِلَى الْجُمْعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat lima waktu. Ibadah Jum’at yang satu dengan ibadah jum’at berikutnya. Puasa Ramadhan yang satu dengan puasa Ramadhan berikutnya. Itu semua merupakan penghapus dosa antara keduanya, selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim [233])
Di dalam kitab Shahihnya, Bukhari membuat sebuah bab yang berjudul ‘Shalat lima waktu sebagai penghapus dosa’ kemudian beliau menyebutkan hadits yang senada, dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu Nabi bersabda,
أَرَأَيْتُمْ لَوْ أَنَّ نَهَرًا بِبَابِ أَحَدِكُمْ يَغْتَسِلُ فِيهِ كُلَّ يَوْمٍ خَمْسًا مَا تَقُولُ ذَلِكَ يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ قَالُوا لَا يُبْقِي مِنْ دَرَنِهِ شَيْئًا قَالَ فَذَلِكَ مِثْلُ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسِ يَمْحُو اللَّهُ بِهِ الْخَطَايَا
“Bagaimana menurut kalian kalau seandainya ada sebuah sungai di depan pintu rumah kalian dan dia mandi di sana sehari lima kali. Apakah masih ada sisa kotoran yang ditinggalkan olehnya?” Para sahabat menjawab, “Tentu saja tidak ada lagi kotoran yang masih ditingalkan olehnya.” Maka beliau bersabda, “Demikian itulah perumpamaan shalat lima waktu dapat menghapuskan dosa-dosa.” (HR. Bukhari [528] dan Muslim [667])
Ibnu Hajar mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di sini lebih luas daripada dosa kecil maupun dosa besar. Akan tetapi Ibnu Baththal mengatakan, ‘Dari hadits ini diambil kesimpulan bahwa yang dimaksudkan adalah khusus dosa-dosa kecil saja, sebab Nabi menyerupakan dosa itu dengan kotoran yang menempel di tubuh. Sedangkan kotoran yang menempel di tubuh jelas lebih kecil ukurannya dibandingkan dengan bekas luka ataupun kotoran-kotoran manusia.’”
Meskipun demikian, Ibnu Hajar membantah ucapan Ibnu Baththal ini dengan menyatakan bahwa yang dimaksud oleh hadits bukanlah kotoran ringan yang sekedar menempel di badan, namun yang dimaksudkan adalah kotoran berat yang benar-benar sudah melekat di badan. Penafsiran ini didukung oleh bunyi riwayat lainnya yang dibawakan oleh Al-Bazzar dan Ath-Thabrani dari hadits Abu Sa’id Al-Khudri dengan sanad la ba’sa bihi yang secara tegas menyebutkan hal itu.
Oleh sebab itulah Al-Qurthubi mengatakan, “Zahir hadits ini menunjukkan bahwa melakukan shalat lima waktu itulah yang menjadi sebab terhapusnya dosa-dosa, akan tetapi makna ini janggal. Namun terdapat hadits lain yang diriwayatkan sebelumnya oleh Muslim dari penuturan Al-Alla’ dari Abu Hurairah secara marfu’ Nabi bersabda, ‘Shalat yang lima waktu adalah penghapus dosa di antara shalat-shalat tersebut selama dosa-dosa besar dijauhi.’ Berdasarkan dalil yang muqayyad (khusus) ini maka hadits lain yang muthlaq (umum) harus diartikan kepada makna ini.” (lihat Fath Al-Bari, 2/15)
Hadits-hadits yang menyebutkan tentang penghapusan dosa karena amal kebaikan di atas sesuai dengan kandungan firman Allah ta’ala,
إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ
“Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu akan menghapuskan dosa-dosa.” (Qs. Huud [11]: 114)
Ibnu Katsir mengatakan, “Allah menyatakan bahwa mengerjakan amal-amal kebaikan akan dapat menghapuskan dosa-dosa di masa silam…” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 4/247). Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan dosa-dosa di dalam ayat di atas adalah dosa-dosa kecil (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 391)
Sebagaimana Allah juga menjadikan tindakan menjauhi dosa-dosa besar sebagai sebab dihapuskannya dosa-dosa kecil. Allah berfirman,
إِنْ تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنْكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُمْ مُدْخَلًا كَرِيمًا
“Jika kalian menjauhi dosa-dosa besar yang dilarang kepada kalian niscaya Kami akan menghapuskan dosa-dosa kecil kalian dan Kami akan memasukkan kalian ke dalam tempat yang mulia (surga).” (Qs. An-Nisaa’ [4]: 31)
Syaikh As-Sa’di menjelaskan bahwa definisi yang paling tepat untuk dosa besar adalah segala bentuk pelanggaran yang diberi ancaman hukuman khusus (hadd) di dunia atau ancaman hukuman tertentu di akhirat atau ditiadakan status keimanannya atau timbulnya laknat karenanya atau Allah murka kepadanya (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176).
Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan ucapan Ibnu Abbas mengenai firman Allah di atas. Ibnu Abbas mengatakan, “Dosa besar adalah segala bentuk dosa yang berujung dengan ancaman neraka, kemurkaan, laknat, atau adzab.” (HR. Ibnu Jarir, disebutkan Ibnu Katsir dalam tafsirnya, 2/202)
Ibnu Abi Hatim menuturkan: Abu Zur’ah menuturkan kepada kami: Utsman bin Syaibah menuturkan kepada kami: Jarir menuturkan kepada kami riwayat dari Mughirah. Dia (Mughirah) mengatakan, “Tindakan mencela Abu Bakar dan Umar radhiyallahu’anhuma juga termasuk dosa besar.” Ibnu Katsir mengatakan, “Sekelompok ulama bahkan berpendapat kafirnya orang yang mencela Sahabat, ini merupakan pendapat yang diriwayatkan dari Malik bin Anas rahimahullah.” Muhammad bin Sirin mengatakan, “Aku tidaklah mengira bahwa ada seorang pun yang menjatuhkan nama Abu Bakar dan Umar sementara dia adalah orang yang mencintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi). (lihat keterangan ini dalam Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203)
Qatadah mengatakan tentang makna ayat di atas, “Allah hanya menjanjikan ampunan bagi orang yang menjauhi dosa-dosa besar.” (Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 2/203)
Termasuk bagian dari menjauhi dosa besar ialah dengan senantiasa menunaikan kewajiban yang apabila ditinggalkan maka pelakunya terjerumus dalam dosa besar seperti halnya meninggalkan shalat, meninggalkan shalat Jum’at, atau meninggalkan puasa Ramadhan (Taisir Al-Karim Ar-Rahman, hal. 176)
Memasukkan ke Dalam Surga
Thalhah bin Ubaidillah radhiyallahu’anhu menceritakan bahwa suatu ketika ada seorang lelaki badui datang menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan rambutnya acak-acakan. Dia mengatakan,
“Wahai Rasulullah. Beritahukan kepadaku tentang shalat yang Allah wajibkan untuk kukerjakan?”
Beliau menjawab,
“Shalat lima waktu, kecuali kalau kamu mau menambahnya dengan shalat sunnah.”
Lalu dia berkata,
“Beritahukan kepadaku puasa yang Allah wajibkan untukku?”
Beliau menjawab,
“Puasa di bulan Ramadhan, kecuali kalau kamu mau menambah dengan puasa sunnah.”
Lalu dia berkata,
“Beritahukan kepadaku zakat yang Allah wajibkan untukku.”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun memberitahukan kepadanya syari’at-syari’at Islam. Orang itu lalu mengatakan, “Demi Dzat yang telah memuliakan anda dengan kebenaran. Aku tidak akan menambah sama sekali, dan aku juga tidak akan menguranginya barang sedikitpun dari kewajiban yang Allah bebankan kepadaku.”
Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
“Dia beruntung jika dia memang jujur.”
Atau beliau mengatakan,
“Dia akan masuk surga jika dia benar-benar jujur/konsekuen dengan ucapannya itu.” (HR. Bukhari [46, 1891, 2678, dan 9656] dan Muslim [11]).
Membentengi Pelakunya Dari Perbuatan Buruk
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
الصِّيَامُ جُنَّةٌ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَجْهَلْ وَإِنْ امْرُؤٌ قَاتَلَهُ أَوْ شَاتَمَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي صَائِمٌ مَرَّتَيْنِ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَخُلُوفُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ تَعَالَى مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ يَتْرُكُ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ وَشَهْوَتَهُ مِنْ أَجْلِي الصِّيَامُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالْحَسَنَةُ بِعَشْرِ أَمْثَالِهَا
“Puasa adalah perisai, maka janganlah dia berkata kotor dan bertindak dungu. Kalau pun ada orang yang mencela atau mencaci maki dirinya hendaknya dia katakan kepadanya, “Aku sedang puasa.” Dua kali. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih wangi di sisi Allah daripada harumnya minyak kasturi. (Allah berfirman) ‘Dia rela meninggalkan makanannya, minumannya, dan keinginan nafsunya karena Aku. Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.’ Setiap kebaikan itu pasti dilipatgandakan sepuluh kalinya.” (HR. Bukhari [1894] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Yang dimaksud dengan kata-kata kotor (rofats) di dalam hadits ini adalah ucapan yang keji. Kata rofats juga terkadang dimaksudkan untuk menyebut jima’ beserta pengantar-pengantarnya. Atau bisa juga maknanya lebih luas daripada itu semua (Fath Al-Bari, 4/123)
Al-Qurthubi menjelaskan bahwa ini bukan berarti di selain waktu puasa orang boleh mengucapkan kata-kata kotor. Hanya saja ketika sedang berpuasa maka larangan terhadap hal itu semakin keras dan semakin tegas (Fath Al-Bari, 4/124)
Kata rofats dengan makna jima’ bisa dilihat dalam ayat,
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَائِكُمْ
“Dihalalkan untuk kalian pada malam (bulan) puasa melakukan rafats (jima’) kepada isteri-isteri kalian.” (Qs. Al-Baqarah [2] : 187)
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa kata rofats di dalam ayat ini maksudnya adalah jima’. Inilah tafsiran Ibnu Abbas, Atha’, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Thawus, Salim bin Abdullah, Amr bin Dinar, Al-Hasan, Qatadah, Az-Zuhri, Adh-Dhahhaak, Ibrahim An-Nakha’i, As-Suddi, Atha’ Al-Khurasani, dan Muqatil bin Hayan (lihat Tafsir Al-Qur’an Al-’Azhim, 1/286)
Dan yang dimaksud dengan bau mulut -orang yang puasa- tersebut adalah bau mulut yang timbul akibat berpuasa, bukan karena sebab yang lain (Fath Al-Bari, 4/125).
Sedangkan yang dimaksud dengan ‘keinginan nafsunya’ di dalam hadits ini adalah hasrat untuk berjima’, sebab penyebutannya digandengkan dengan makan dan minum (Fath Al-Bari, 4/126)
Sebuah Pintu Khusus di Surga
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
إِنَّ فِي الْجَنَّةِ بَابًا يُقَالُ لَهُ الرَّيَّانُ يَدْخُلُ مِنْهُ الصَّائِمُونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ يُقَالُ أَيْنَ الصَّائِمُونَ فَيَقُومُونَ لَا يَدْخُلُ مِنْهُ أَحَدٌ غَيْرُهُمْ فَإِذَا دَخَلُوا أُغْلِقَ فَلَمْ يَدْخُلْ مِنْهُ أَحَدٌ
“Sesungguhnya di dalam Surga terdapat sebuah pintu yang disebut Ar-Royyan. Orang-orang yang rajin berpuasa akan masuk Surga melewatinya pada hari kiamat nanti. Tidak ada orang yang memasukinya selain mereka. Diserukan kepada mereka, ‘Manakah orang-orang yang rajin berpuasa?’ Maka merekapun bangkit. Tidak ada yang masuk melewati pintu itu selain golongan mereka. Dan kalau mereka semua sudah masuk maka pintu itu dikunci sehingga tidak ada lagi seorangpun yang bisa melaluinya…” (HR. Bukhari [1896] dari Sahl radhiyallahu’anhu)
Yang dimaksud dalam hadits dengan orang yang rajin puasa bukanlah orang yang hanya mengerjakan puasa dan tidak mengerjakan shalat, sebab orang seperti ini tidak akan masuk surga akibat kekafirannya (meninggalkan shalat, pen). Akan tetapi yang dimaksud adalah kaum muslimin yang banyak-banyak berpuasa maka dia akan dipanggil agar melalui pintu tersebut. Sehingga setiap penghuni surga akan memasuki surga melalui pintu-pintunya yang berjumlah delapan (lihat Syarh Riyadhush Shalihin oleh Ibnu Utsaimin, 3/388-389)
Masing-masing pintu di surga memiliki kekhususan. Hal itu sebagaimana dikabarkan oleh Nabi dalam haditsnya,
مَنْ أَنْفَقَ زَوْجَيْنِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ نُودِيَ مِنْ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ يَا عَبْدَ اللَّهِ هَذَا خَيْرٌ فَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّلَاةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّلَاةِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الْجِهَادِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الْجِهَادِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصِّيَامِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الرَّيَّانِ وَمَنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ الصَّدَقَةِ دُعِيَ مِنْ بَابِ الصَّدَقَةِ فَقَالَ أَبُو بَكْرٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ بِأَبِي أَنْتَ وَأُمِّي يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا عَلَى مَنْ دُعِيَ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ مِنْ ضَرُورَةٍ فَهَلْ يُدْعَى أَحَدٌ مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ كُلِّهَا قَالَ نَعَمْ وَأَرْجُو أَنْ تَكُونَ مِنْهُم
“Barangsiapa yang berinfak dengan sepasang hartanya di jalan Allah maka ia akan dipanggil dari pintu-pintu surga, ‘Hai hamba Allah, inilah kebaikan.’ Maka orang yang termasuk golongan ahli shalat maka ia akan dipanggil dari pintu shalat. Orang yang termasuk golongan ahli jihad akan dipanggil dari pintu jihad. Orang yang termasuk golongan ahli puasa akan dipanggil dari pintu Ar-Royyan. Dan orang yang termasuk golongan ahli sedekah akan dipanggil dari pintu sedekah.”
Ketika mendengar hadits ini Abu Bakar pun bertanya, “Ayah dan ibuku sebagai penebus anda wahai Rasulullah. Apa lagi yang akan dicari oleh orang yang dipanggil dari pintu-pintu itu, mungkinkah ada orang yang dipanggil dari semua pintu tersebut?” Maka beliau pun menjawab, “Iya ada. Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka.” (HR. Bukhari [1897 dan 3666] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Al-Qadhi menukil ucapan Al-Harawi ketika menerangkan makna ‘sepasang hartanya’: Ada yang berpendapat bahwa yang dimaksud dengan ‘sepasang harta’ adalah dua ekor kuda, dua orang budak, atau dua ekor onta (Al-Minhaj oleh An-Nawawi, 4/351). Sedangkan yang dimaksud dengan berinfak di jalan Allah dalam hadits ini mencakup berinfak untuk segala bentuk amal kebaikan, bukan khusus untuk jihad saja (Al-Minhaj, 4/352).
Hadits ini juga menunjukkan bahwa setiap orang yang beramal akan dipanggil dari pintunya masing-masing. Hal ini didukung dengan hadits dari jalur lain juga dari Abu Hurairah yang mengungkapkannya secara tegas, Nabi bersabda,
لِكُلِّ عَامِل بَاب مِنْ أَبْوَاب الْجَنَّة يُدْعَى مِنْهُ بِذَلِكَ الْعَمَل
“Bagi setiap orang yang beramal terdapat sebuah pintu khusus di surga yang dia akan dipanggil melalui pintu tersebut karena amal yang telah dilakukannya.” (HR. Ahmad dan Ibnu Abi Syaibah dengan sanad sahih, demikian kata Al-Hafizh dalam Fath Al-Bari, 7/30)
Hadits ini juga menunjukkan betapa mulia kedudukan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Sebab Nabi mengatakan di akhir hadits ini, “Dan aku berharap kamu termasuk golongan mereka -yaitu orang yang dipanggil dari semua pintu surga-.” Para ulama mengatakan bahwa harapan dari Allah atau Nabi-Nya pasti terjadi. Dengan pernyataan ini maka hadits di atas termasuk kategori hadits yang menunjukkan keutamaan Abu Bakar radhiyallahu’anhu. Hadits ini juga menunjukkan bahwa betapa sedikit orang yang bisa mengumpulkan berbagai amal kebaikan di dalam dirinya (Fath Al-Bari, 7/31).
Abu Bakar adalah orang yang memiliki berbagai bentuk amal shalih dan ketaatan. Hal itu terbukti sebagaimana disebutkan dalam hadits berikut.
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ أَصْبَحَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ صَائِمًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ تَبِعَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ جَنَازَةً قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ أَطْعَمَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مِسْكِينًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا قَالَ فَمَنْ عَادَ مِنْكُمْ الْيَوْمَ مَرِيضًا قَالَ أَبُو بَكْرٍ أَنَا فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا اجْتَمَعْنَ فِي امْرِئٍ إِلَّا دَخَلَ الْجَنَّةَ
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya (kepada para sahabat), “Siapakah di antara kalian yang pada hari ini berpuasa?”. Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengiringi jenazah?” Maka Abu Bakar berkata, “Saya.” Beliau kembali bertanya, “Siapakah di antara kalian yang hari ini memberi makan orang miskin?”. Maka Abu Bakar mengatakan, “Saya.” Lalu beliau bertanya lagi, “Siapakah di antara kalian yang hari ini sudah mengunjungi orang sakit.” Abu Bakar kembali mengatakan, “Saya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Tidaklah ciri-ciri itu terkumpul pada diri seseorang melainkan dia pasti akan masuk surga.” (HR. Muslim [1027 dan 1028] dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
Abu Bakar Al-Muzani berkomentar tentang sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu’anhu, “Tidaklah Abu Bakar itu melampaui para sahabat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam (semata-mata) karena (banyaknya) mengerjakan puasa atau sholat, akan tetapi karena sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya.” Mengomentari ucapan Al-Muzani tersebut, Ibnu ‘Aliyah mengatakan, “Sesuatu yang bersemayam di dalam hatinya adalah rasa cinta kepada Allah ‘azza wa jalla dan sikap nasihat terhadap (sesama) makhluk-Nya.” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam oleh Ibnu Rajab, hal. 102)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, akan baiklah seluruh anggota tubuh. Dan apabila ia rusak, rusaklah seluruh anggota tubuh. Ketahuilah, bahwa segumpal daging itu adalah jantung.” (HR. Bukhari [52] dan Muslim [1599] dari sahabat An-Nu’man bin Basyir radhiyallahu’anhuma)
Ibnu Rajab Al-Hanbali mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat isyarat yang menunjukkan bahwa kebaikan gerak-gerik anggota badan manusia, kemauan dirinya untuk menjauhi perkara-perkara yang diharamkan, kesanggupannya meninggalkan hal-hal yang berbau syubhat (ketidakjelasan) adalah sangat tergantung pada gerak-gerik hatinya. Apabila hatinya bersih, yaitu tatkala di dalamnya tidak ada selain kecintaan kepada Allah dan kecintaan terhadap apa-apa yang dicintai Allah, rasa takut kepada Allah dan khawatir terjerumus dalam hal-hal yang dibenci-Nya, maka niscaya akan menjadi baik pula gerak-gerik seluruh anggota badannya. Dari sanalah tumbuh sikap menjauhi segala macam keharaman dan sikap menjaga diri dari perkara-perkara syubhat untuk menghindarkan diri dari hal-hal yang diharamkan…” (Jami’ Al-’Ulum wa Al-Hikam, hal. 93)
An-Nawawi mengatakan, “Hadits ini menunjukkan penegasan agar  bersungguh-sungguh dalam upaya memperbaiki hati dan menjaganya dari kerusakan.” (Al-Minhaj, 6/108)
Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa salah satu pelajaran penting yang bisa dipetik dari hadits di atas adalah, “Poros baik dan rusaknya (amalan) adalah bersumber dari hati. Apabila hatinya baik maka seluruh tubuh juga akan baik. Dan jika ia rusak, maka seluruh anggota tubuh akan ikut rusak. Dari faidah ini muncul perkara yang lain yaitu : sudah semestinya memperhatikan masalah hati lebih daripada perhatian terhadap masalah amal anggota badan. Sebab hati adalah poros amalan. Dan hati itulah yang nanti pada hari kiamat akan menjadi objek utama ujian yang ditujukan kepada manusia. Hal itu sebagaimana firman Allah ta’ala (yang artinya), “Apakah mereka tidak mengetahui ketika mayat yang ada di dalam kubur dibangkitkan dan dikeluarkan apa-apa yang tersembunyi di dalam dada.” (Qs. Al-’Adiyat: 9-10). Allah ta’ala juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya Dia Maha Kuasa untuk mengembalikannya. Pada hari itu akan diuji perkara-perkara yang tersembunyi (di dalam hati).” (Qs. Ath-Thariq: 8-9). Maka sucikanlah hatimu dari kesyirikan, kebid’ahan, dengki dan perasaan benci kepada kaum muslimin, serta (bersihkanlah hatimu) dari akhlak-akhlak dan keyakinan lainnya yang bertentangan dengan syari’at, karena yang menjadi pokok segala urusan adalah hati.” (Syarh Arba’in, hal. 113)
Beliau juga mengatakan, “Apabila Allah di dalam kitab-Nya, serta Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam Sunnahnya juga telah menegaskan agar memperbaiki niat, maka wajib bagi setiap manusia untuk memperbaiki niatnya dan memperhatikan adanya keragu-raguan yang tertanam di dalam hatinya untuk kemudian dilenyapkan olehnya menuju keyakinan. Lantas bagaimanakah caranya?”
Beliau melanjutkan, “Hal itu dapat ditempuh dengan cara memperhatikan ayat-ayat. Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian siang dan malam sungguh-sungguh terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang menggunakan akal pikiran.” (Qs. Ali ‘Imran: 190). Allah juga berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya di langit dan di bumi benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang beriman, begitu juga dalam penciptaan diri kalian dan hewan-hewan melata yang bertebaran adalah tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang yakin.” (Qs. Al-Jatsiyah: 4). Maka silakan anda perhatikan ayat-ayat Allah yang lain.”
“Kemudian apabila syaitan membisikkan di dalam hati anda keragu-raguan, perhatikanlah ayat-ayat Allah, perhatikan alam semesta ini siapakah yang telah mengaturnya, perhatikanlah bagaimana keadaan bisa berubah-ubah, bagaimana Allah mempergilirkan perjalanan hari di antara umat manusia sampai anda benar-benar yakin bahwa alam ini memiliki pengatur yang maha bijaksana (yaitu Allah) ‘azza wa jalla…” (Syarh Riyadhush Shalihin, 1/41)

Semogadapat membantu memotivasi kita semua

Kewajiban Berpuasa dibulan Ramadhan

Allah ta’ala berfirman,
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, telah diwajibkan kepada kalian untuk berpuasa, sebagaimana telah diwajibkan kepada orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.” (Qs. Al-Baqarah [2]: 183)
Ibnu Utsaimin rahimahullah mengatakan, “Puasa Ramadhan merupakan salah satu rukun Islam. Inilah kedudukannya (yang mulia) di dalam agama Islam. Hukumnya adalah wajib berdasarkan ijma’/kesepakatan kaum muslimin karena Al-Kitab dan As-Sunnah menunjukkan demikian.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380)
Ketika menjelaskan ayat di atas beliau mengatakan, “Allah mengarahkan pembicaraannya (di dalam ayat ini, pen) kepada orang-orang yang beriman. Sebab puasa Ramadhan merupakan bagian dari konsekuensi keimanan. Dan dengan menjalankan puasa Ramadhan akan bertambah sempurna keimanan seseorang. Dan juga karena dengan meninggalkan puasa Ramadhan akan mengurangi keimanan. Para ulama berbeda pendapat mengenai orang yang meninggalkan puasa karena meremehkannya atau malas, apakah dia kafir atau tidak? Namun pendapat yang benar menyatakan bahwa orang ini tidak kafir. Sebab tidaklah seseorang dikafirkan karena meninggalkan salah satu rukun Islam selain dua kalimat syahadat dan shalat.” (Syarh Riyadhush Shalihin, 3/380-381)
Menunaikan kewajiban merupakan ibadah yang sangat utama, karena kewajiban merupakan amalan yang paling dicintai oleh Allah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda membawakan firman Allah ta’ala (dalam hadits qudsi),
وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ
“Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada dengan suatu amalan yang lebih Aku cintai daripada dengan menunaikan kewajiban yang Aku bebankan kepadanya…” (HR. Bukhari [6502] dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu)
An-Nawawi mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat dalil yang menunjukkan bahwa mengerjakan kewajiban lebih utama daripada mengerjakan amalan yang sunnah.” (Syarh Arba’in li An-Nawawi yang dicetak dalam Ad-Durrah As-Salafiyah, hal. 265)
Syaikh As-Sa’di juga mengatakan, “Di dalam hadits ini terdapat pokok yang sangat agung yaitu kewajiban harus didahulukan sebelum perkara-perkara yang sunnah. Dan ia juga menunjukkan bahwa amal yang wajib itu lebih dicintai Allah dan lebih banyak pahalanya.” (Bahjat Al-Qulub Al-Abrar, hal. 116)
Al-Hafizh mengatakan, “Dari sini dapat dipetik pelajaran bahwasanya menunaikan kewajiban-kewajiban merupakan amal yang paling dicintai oleh Allah.” (Fath Al-Bari, 11/388)
Syaikh Prof. Dr. Ibrahim Ar-Ruhaili hafizhahullah mengatakan, “Amal-amal wajib lebih utama daripada amal-amal sunnah. Menunaikan amal yang wajib lebih dicintai Allah daripada menunaikan amal yang sunnah. Ini merupakan pokok agung dalam ajaran agama yang ditunjukkan oleh dalil-dalil syari’at dan ditetapkan pula oleh para ulama salaf.” Kemudian beliau menyebutkan hadits di atas. Setelah itu beliau mengatakan, “Maka hadits ini memberikan penunjukan yang sangat gamblang bahwa amal-amal wajib lebih mulia dan lebih dicintai Allah daripada amal-amal sunnah.” Kemudian beliau menukil ucapan Al-Hafizh Ibnu Hajar di atas (lihat Tajrid Al-Ittiba’ fi Bayan Tafadhul Al-A’maal, hal. 34)

Semogadapat membantu memotivasi kita semua

Selasa, 29 Maret 2011

CERITA PILOSOFI KEHIDUPAN DI BISNIS JARINGAN

Mitra usaha DBS yang berbahagia!!! Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dihadapkan dengan prilaku yang membosankan ( Titik jenuh ) terkadang timbul rasa ragu-ragu untuk menghadapi dan menyelesaikan pekerjaan karna banyaknya HAL, Dianggap menghambat menjadi permasalahan.
Padahal kalau kita kaji dari permasalahan itu sendiri yang akan mengantar kita lebih dewasa dan mengerti akan alur kehidupan
Mitra usaha yang berbahagia untuk sedikit lebih Rilex mari kita simak sebuah cerita dibawah ini :

NELAYAN PRUSTASI VS IKAN TONGKOL
Pada suatu hari di pesisir pantai ada seorang nelayan lagi duduk melamun diatas perahunya.
Keraguan dan kebimbangan Nampak diwajahnya dengan tatapan mata yang hampa memandang jauh kelautan nan luas, Berguman dari bibirnya keluar kata-kata seakan bertanya dan mengadili dirinya sendiri mengapa hidup ini selalu penuh dengangan masalah,??? Kapan..kapan..kapankah…. penderitaan ini berakhir?... bah ombak dilautan yang tak pernah berhenti!
Lagi larut dalam lamunan tiba-tiba nelayan dikejutkan seekor ikan Tongkol yang datang menghapiri dan bertanya, Wahai nelayan jelek kenapa kamu terus bingung?... Kenapa.. kenapa kamu mesti ragu..? padahal kesusuksesan dalam kehidupan sudah menunggumu..!!! jangan takut dengan masalah karna masalah pertanda kehidupan didunia.
Nelayanpun balik bertanya Wahai ikan tongkol!! tolong jawab pertayaanku, kenapa daging kamu takpernah asin padahal kamu selamanya hidup diair asin?? Dan mengapa badanmu tak pernah kurus padahal kehidupmu  selalu dalam terjangan badai??
Smbil berlalu dan tertawa kecil ikan tongkol menjawab!!! KAN SAYAHMAH SUDAH BISA…..He..he..he…!!!
Setelah mendengar jawaban sang tongkol akhirya nelayanpun jadi tertawa…Ha…ha…ha MEMANG BETUL SIH.
Mitra usaha DBS yang berbahagia!!! Semoga setelah membaca cerita pilosofi ini kita bisa mengambil hikmah dari kehidupan sehari-hari dan yakinkan diri akan masalah adalah kehidupan.
Salam Sukses Slalu & GOOOFREEDOM!!!


JALANKAN BUSINES DBS DENGAN KEBESARAN JIWA DAN KERENDAHAN HATI

Mitra usaha DBS yang berbahagia!!! Menyikapi persaingan di Busines Jejaring mau tidak mau kita dituntut untuk lebih meningkatkan kinerja baik dari segi pelayanan maupun kerjasama.
Akan tercipta kerjasama yang baik bila kita semua bisa memahami antara hak dan kewajiban satu sama lain di antara mitra usaha.
Sebagai mahluk sosial ( Manusia ) Sebelum memahami orang lain pahami dulu diri kita sendiri dimana kita wajib mengetahui bahwa kehidupan kita ada ditujuh area kehidupan.

* SUKSES DI  7 AREA KEHIDUPAN *
1. FISIKAL
Kita  mempunyai  fisik  untuk  bias  bekerja   dimana   pekerjaan   kita bermanpaat  diri  dan  keluarga  maupun orang banyak tanpa harus mengabaikan  kondisi  kesehatan  biar  kita mampuh bekerja secara oftimal.      
2. MENTAL              
Seimbangkan emosi dalam gaya hidup agar  semua  pekerjaan biasa diselesaikan. dan tidak ada dampak setreas ( Oftimis tidak ambisi )
3. SEPIRITUAL        
Dekatkan  diri  kepada  sang  Khaliq,  sebagai  mahluk  yang  tiada daya  dan upaya dimana  dengan  kekutan dan kusanya, Kita wajib bersukur dan  mensukuri (Sabar).
4. SOSIAL                 
Expresikan  diri  kita  untuk  sebuah  karya  yang  bisa  dinikmati khalayak  sebagai wujudan rasa solidaritas & sosial. 
5.  FAMILY    
Untuk   meraih    kesuksesan    dalam    hidup ,   kita    tidak    bisa    berdiri    sendiri     
( Membutuhkan  orang  lain )  Maka  dari  itu  perbanyaklah  saudara  dengan  cara Silaturohim  yang  konsisten  maka  akan  tercipta  komunitas  dan  keluarga  besar Untuk bisa menikmati hasil karya yang telah kita raih.
6.  KARIER                
Demi  sebuah   karya  yang  kita   kerjakan  tidak   boleh  mengabaikan  Lima   Area Kehidupan Karena dengan suksesan di lima area  kehidupan  maka  akan t erangkat
karier kita.
7.  FINANCIAL         
Dampak dari suksesan di enam area kehidupan maka sukseslah financial kita.
Usahawan DBS yang berbahagia!!! mudah-mudahan dengan pembelajaran di tujuh area kehidupan, kita semua bisa lebih menyadari bahwa kesuksesan tidak harus dibangun dengan ambisi dan mengorbankan perasaan, tapi raihlah kesuksesan diatas perasaan agar kita semua bisa menikmati dan merasakan kesuksean dari sebuah karya.
Pepatah mengatakan sukses dalam kehidupan duniawi hanyalah sementara dan kesuksesan adalah sebuah perjalanan yang sangat panjang.


CARA CEPAT DAN EFEKTIP MENJALANKAN BISNIS DBS ( KIF SHOT & SIMPLE )

Ada metode untuk menjalankan usaha DBS dimana semuanya ada di diri kita  dan siapapun punya setiap orang punya kesempatan untuk mejalankanya, persoalanya kapan kita dan sudahkah kita melakukannya???...
Adapun metodenya :
1.      Menunggu bola : Dengan metode tunggu bola kita bisa menawarkan kepada mereka yang sengaja atau tidak sengaja menjumpai kita, atau sengaja datang kerumah kita di waktu tertentu.
Dan hasilnya ??? kurang efektip, yang mejalankan metode seperti ini pasti akan menemukan ganjalan-ganjalan angka keberhasilanya sekitar  5%.
2.      Jemput bola : kita harus bikin janji ketemu luangkan waktu, sediakan sarana pendukung untuk mendatangi calon prospek, di ajak keacara-acara yang diselenggarakan perusahaan dan para leader.
3.      Mesin giling :  kita tawarkan peluang usaha kepada siapapun tanpa harus memandang status social.
4.      Expansi : diperlukan persiapan yang maksimal dari sisi waktu materi sebagai sarana dan prasarana pendukung perjalanan lintas batas ( Pengembangan wliayah )
Mitra DBS yang budiman untuk meraih keberhasilan dari suatu pekerjaan diperlukan konsentrasi dan ketekunan dalam pembelajaran sistemnya, sempurna atau tidak satu metode, bisa diperbaiki! yang terpenting bagaimana cara kita mempositifkan diri dalam menerima dan menyikapi konsep yang kita pelajari.
            Pepatah mengatakan sepandai-pandainya tupai melompat ahkirnya jatuh juga, tetapi sejatuh-jatuhnya tupai tetap melompat lagi.


WUJUDKAN IMPIAN ANDA DI BISNIS DBS

Kesuksesan dalam kehidupan adalah tujuan atau target setiap manusia.
Namun terkadang target dan impian itu kandas ditengah jalan karna banyak hal menyita impian kita penyebabnya paktor ketidak yakinan, ketakutan dan keraguan semua itu membuat kita mudah kalah dalam permainan ataupun bisnis yang sudah kita jalankan alhasil banyak orang mati hati dan prustasi karna keputus asaan.
 Mitra DBS yang budiman sambil kita jalani bisnis DBS ini, mari kita kenali diri untuk menambah keyakinan dan kekuatan demi terwujudnya impian yang jadi idaman.
Ada empat faktor yang diberikan Tuhan ( ALLAH SWT ) kepada kita.
 
Fisik    : Kita di beri fisik untuk satu pergerakan, dimana fisik jadi wadah dorongan emosi.
Emosi : (Nafsu) kita di beri nafsu Dalam kehidupan ini wujud dari terciptanya kemauan dimana Akal akan mengantarnya.
Akal    : (Pikiran) kita diberikan akal untuk bisa berpikir yang rasional dimana hati akan  menggerakanya , tetapi hati-hati dengan akal, terkadang jadi muslihat.     
Hati     : Kita diberi hati untuk bisa menggabungkan pergerakan antara akal, emosi dan fisik.

*PERBEDAAN PERAN EMPAT PAKTOR YANG ADA DI DIRI KITA*
Apabila kita bekerja hanya menggunakan fisik dan emosi kita masuk ke unsur Hewani (BINATANG)
Apabila kita bisa bekerja dengan menggabungkan empat faktor di atas, maka kita masuk keunsur insani (MANUSIA)
Mitra DBS yang budiman dengan gambaran materi diatas! Mari kita belajar untuk menjalankan bisnis dalam kehidupan ini dengan sepenuh hati karna dengan konsep SEPENUH HATI kita akan mudah meraih dan mewujudkan impian dalam kehidupan kita.